Tentang Merasa Overwhelmed, dan Pelajaran Hidup Lainnya.

November 15, 2021

Being an adult is no joke. Kalau flashback kejadian di umur 20-an dimana dunia seakan runtuh pas putus dari pacar, ga keterima beasiswa, dsb dsb.. wah ujian hidup saat sudah berkeluarga jauuuuhhh lebih dahsyat dari itu. Kupikir dulu, jadi orang dewasa itu menyenangkan. Bisa bebas mau ngapain aja. Bebas your eyeesss. Seperti kata omnya Peter Parker, with great power comes bigger responsibility (bener gitu gak sih? Semoga bener ya)

Mulai dari mengurus orang tua, terutama orang tua yang sedang sakit. Sama sekali tidak pernah terlintas di pikiran umur 20-an ku kalau aku akan mengurus orang tua yang sakit. Kalau materiil, oke lah mungkin masih bisa ditanggung bersama. Tapi secara mental.... whoaaa, seriously, it drained your emotion and tested your patience for many times. Ada saat dimana merasa putus asa karena sudah mencoba pengobatan ini itu namun belum menunjukkan hasil yang berarti. Namun ada juga saat merasa kasihan melihat beliau kesakitan. Pernah juga merasa marah karena merasa this is too much for me. Satu kepala untuk memikirkan banyak hal. Belum lagi, ada mimpi yang harus ditahan demi membersamai orang tua karena aku tahu, akan berat buat beliau jika aku terus mengejar mimpi dan memisahkan cucu-cucunya dari mereka. Bagaimanapun juga, salah satu obat untuk mengatasi kejenuhan ya bermain dengan cucu. Aku tahu itu. 


Ditambah lagi, saat ini aku sedang merasa mencari jati diriku sebagai seorang Ima. Aku banyak mencari ilmu di Instagram, artikel-artikel tentang bagaimana berdamai dengan diri sendiri, mindfulness, tentang merasa cukup.... dan kusadari bahwa aku masih harus banyaaaaaakkkk belajar. Kadang sampai berpikir, mana dulu nih yang harus dibenerin? Mana dulu nih yang harus dipelajarin? Otak rasanya sibuk sekali memikirkan ini itu mau ini itu padahal apa daya energi terbatas. 

Sepertinya harus belajar untuk bisa merasa cukup. Merasa bersyukur. Padahal menurutku itu adalah dua pelajaran hidup yang paling susah. Untuk bisa merasa cukup dengan apa yang dimiliki saat ini, untuk bisa merasa bersyukur dengan apa yang dipunya saat ini.. hal itu bertolak belakang dengan keinginan untuk 'naik kelas', biar hidup nggak gini-gini aja, biar bisa punya opsi lebih banyak untuk pengembangan akademis maupun non-akademis anak. Apakah salah kalau aku merasa belum cukup? Tapi aku capek, gimana dong hahahahaha repot ya maunya minimum effort but maximum gain.


Hang in there.
Satu-satu.
Nggak masalah kok kalau pause sebentar.
Menikmati momen sini dan kini.
Tarik nafas.
Semua akan baik-baik saja.


No comments:

Powered by Blogger.