Setelah Membaca (Sebagian) Filosofi Teras
Jadi ceritanya, sudah beberapa waktu ini saya merasa 'hilang arah' dengan kehidupan saya (ceileh bahasanyaaa). Apa ya, rasanya melakukan kegiatan sehari-hari kayak nggak 'ikhlas' gitu lho. Ngerasa cukup banyak perubahan, baik dari kerjaan, sebagai istri, sebagai anak, sebagai ibu, dan sebagai individu sendiri. Mulai mencoba me time dengan hal-hal yang saya suka, rutin yoga, dan kembali baca buku lagi.
Setelah browsing sana-sini, akhirnya saya menemukan buku ini. Mungkin lebay, tapi ini seperti 'jawaban' atas apa yang saya pertanyakan selama ini. Saya memang belum tuntas baca bukunya, saking seringnya saya baca ulang. Baru selesai 1 bab, saya baca lagi. Selesai sampai 1/4 buku, saya baca lagi. Buku ini relevan dengan apa yang saya rasakan, jadinya saya merasa bisa relate banget dengan kata-kata Om Piring di bukunya. Pun, bahasa penulisannya sangat ringan, nggak yang filosofis banget ala Dunia Sophie gitu.
Mumpung ada beberapa poin bagus yang saat ini masih menempel di kepala saya, saya tuliskan di blog. Nanti kalau sudah tuntas baca bukunya, saya tulis lagi.
1. Tentang khawatir.
Bab 1 di buku ini diawali dengan 'Survei Khawatir Nasional'. Dari hasil survei tersebut, ternyata banyak lho orang yang khawatir dengan berbagai aspek dalam hidupnya. Berarti, khawatir itu merupakan suatu hal yang wajar! Jadi, kenapa kita harus khawatir berlebihan? Khawatir malah akan menghabiskan energi kita (ini sebagai pengingat buat saya juga sih, yang parnoan terhadap segala situasi T__T)
2. Tentang hidup
Entah kenapa, belakangan saya sering takut dengan kematian, terutama berkaitan dengan orang yang yang saya sayangi. Di Filosofi Teras, kita diingatkan bahwa manusia adalah makhluk fana yang pada akhirnya yaa pasti meninggal juga. Bukan berarti kita tidak boleh menyayangi orang terdekat kita, tapi kita harus menyadari dan membuat 'jarak', kalau pada akhirnya mereka juga akan meninggalkan kita. Yang lain, adalah tentang amor fati. Mencintai takdir. Baik buruk yang terjadi pada kita, ya itulah takdir kita, nasib kita. Tidak hanya sekedar ikhlas menerima, namun juga 'mencintainya'. Ini masih harus belajar banget sih.
3. Tentang dikotomi kendali
Om Piring sampe bilang di bukunya, kalau hanya boleh ada satu hal saja yang harus diingat dari buku Filosofi Teras, hal tersebut adalah mengenai dikotomi kendali. Segala hal tentang hidup terbagi menjadi dua: hal yang ada dalam kendali kita dan hal yang diluar kendali kita. Perilaku kita, pikiran kita, persepsi kita adalah hal yang ada dalam kendali diri kita masing-masing. Penilaian orang lain, persepsi orang lain adalah hal yang diluar kendali kita. Jadi, buat yang masih mikirin omongan orang terhadap diri kita (plis ngaca buuukkkk :D) sadarilah bahwa omongan orang tersebut sudah diluar kendali kita. Nah, persepsi kita terhadap omongan tersebut, itu yang bisa kita atur.
Saya sih sangat merekomendasikan buku ini buat yang pengen lebih mindful dalam menjalani kehidupan. Saya juga masih belum selesai baca, semoga ga ke-distract nonton drama Korea yah :D




No comments: