Hello Again
Kok bisa?
Mungkin karena pas baru punya kakak dulu, yang kerasa adalah excited-nya. Excited menjadi orang tua baru dengan pengalaman baru. Anak kedua ini, karena sebelumnya sudah pernah merasakan punya kakak, jadi agak less excited. Kalau kata psikologku sih, bukan berarti tidak sayang anak ya. Hanya saja, manusia kan memang punya kecenderungan excited akan sesuatu hal yang baru. Menurut artikel yang aku baca juga, 'feelings aren't good or bad or right or wrong, they're just feelings.' Jadi, kalau pun aku merasa less excited dengan kehadiran adik, ternyata itu wajar saja. Apakah ini termasuk baby blues atau post partum depression? Nah ini aku yang masih mencari jawabannya. Semakin tua gini aku justru semakin tertarik dengan kesehatan mental secara holistik karena menurutku itulah kunci dari hidup yang sehat lahir dan batin. Kapan-kapan aku bahas secara terpisah ya.
Balik lagi ke soal perasaan setelah ada adik. Sekarang, yang lebih terasa adalah justru bagaimana kami berdua akan membesarkan kedua anak perempuan ini menjadi pribadi yang utuh. Namanya orang tua, pasti punya harapan ingin membesarkan anak yang seperti apa. Berkaca pada perjalananku tumbuh dewasa, walau aku tahu bapak dan ibu sudah membesarkan aku dan adik semampu mereka, pasti ada celah yang ingin kuperbaiki untuk anakku nanti.
Aku ingin, anakku jadi pribadi yang percaya diri, mampu mencintai dan dicintai, terbuka pada orang tua dan saudara kandung, serta mampu dan sadar akan pilihan hidupnya. Untuk menuju kesana, PR banget nih buat orang tuanya alias aku untuk terus belajar mewujudkannya.
Semoga aku dan bapake bisa yaaa :)





No comments: